Apakah Beras Anda Mengandung Pemutih Klorin? Kenali Cara Mengetahuinya !!

BC CHLORINE bleaching chlorine

Bagaimana fenomena pemutih beras yang beredar di pasaran ?

Sekarang ini banyak sekali bahan  kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam  membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi disamping untuk makanan dibuat juga bahan  kimia untuk  pembuatan kebutuhan lain. Contoh penggunaan bleaching chlorine (pemutih klorin) pada beras.

Masalah manipulasi mutu beras sebenarnya sudah sering dilakukan pedagang/penggilingan seperti penyemprotan  zat aromatic dan pemakaian bahan pemutih. Pemakaian bahan pemutih pada beras yang tidak  jelas dan tidak sesuai spesifikasi bahan tambahan yang diperbolehkan untuk pangan, dan konsentrasi pemakaian diatas ambang batas berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaan  klorin dalam  pangan bukan hal yang asing. Klorin sekarang bukan hanya digunakan untuk bahan  pakaian dan kertas saja, tetapi telah digunakan sebagai bahan pemutih atau pengkilat beras, agar beras yang berstandar medium menjadi beras berkualitas super (Darniadi,2010).

Apa itu Klorin dan Bahayanya Bagi Kesehatan ?

Klorin banyak diperjual belikan di pasaran dalam bentuk kalsium hipoklorida atau yang dikenal sebagai kaporit. Bentuknya berupa bubuk atau briket padat. Bentuk klorin lain ada dalam senyawa kimia sodium chlorite yang berbentuk Kristal putih. Klorin sendiri sebenarnya zat kimia  yang berfungsi sebagai desinfektan atau pembunuh kuman.

Klorin memang berguna sebagai bahan pembersih. Sehingga banyak oknum yang membersihkan dan memutihkan beras dengan menggunakan klorin dengan alasan agar mendapatkan untung lebih karena banyak masyarakat yang memilih beras hanya karena bersih dan putih. Padahal sebenarnya dengan menggunakan klorin pada beras memiliki dampak buruk bagi kesehatan  tubuh  manusia. Diantaranya sebagai berikut :
1. Menimbulkan kanker darah.
2. Merusak sel-sel darah.
3. Mengganggu fungsi hati/liver.
4. Dapat merusak sistem pernapasan bila penggunaan klorin mencapai 3-5 ppm dalam beras
5. Dapat mengganggu kesehatan mata, kulit dan batuk-batuk apabila penggunaan klorin  mencapai  15-30 ppm dalam beras.
6. Serta dapat menyebabkan kematian apabila penggunaan klorin diatas 30 ppm dalamberas

Efek toksik klorin yang terutama adalah sifat korosif nya . Kemampuan oksidasi klorin sangat kuat, dimana di dalam air klorin akan melepaskan oksigen dan hydrogen klorida yang menyebabkan kerusakan jaringan. Sebagai altematif, klorin dirubah menjadi asam hipoklorit yang dapat menembus sel dan bereaksi dengan protein sitoplasmik yang dapat merusak struktur sel (U.S.Department Of Health And Human Services, 2007)

Bagaimana Cara Mengidentifikasi adanya klorin secara visual?
Berikut ini adalah  cara untuk mengidentifikasi adanya klorin dalam beras:

BERAS SEHAT BERAS BERBAHAYA
Beras yang sehat justru tidak ter­lalu putih seperti ketan putih. Berasnya berwarna sangat putih, ber­beda dengan warna putih alami yang nampak dari beras seperti biasanya.
Beras alami biasanya akan mening­galkan serbuk kasar jika digeng­gam. Jika diraba, beras ini terasa sangat li­cin seperti minyak. Beras berpemutih tidak meninggalkan serbuk apapun. Walaupun licin, bulir beras akan me­nempel di telapak tangan jika dilepas­kan dari genggaman.
Secara alami menghasilkan bau harum. Contohnya beras Pandan Wangi. Beras berpemutih berbau berbeda dari beras pada umumnya, seperti bau bahan-bahan kimia atau parfum yang agak menyengat.
Tidak Berbau Tengik. Setelah disimpan beberapa hari, beras menggunakan klorin akan mengelu­arkan bau tengik dan terasa sedikit asam. Bila mengalami hal seperti ini, cepat buang beras itu dan jangan sam­pai dimakan.
Beras alami saat dicuci akan ber­warna keruh seperti air sabun. Saat dicuci, beras yang mengandung pemutih tidak berwarna keruh.
Beras yang mengandung bahan klorin setelah dimasak rasanya menjadi ku­rang enak dan warnanya menjadi tidak seputih seperti semula.
Jika beras direndam dalam air selama 3 hari tetap putih dan tidak berbau.
Ketika sudah dimasak dan ditaruh dalam penghangat nasi dalam semalam nasi sudah menimbulkan bau tidak sedap.

Bagaimana Dampak Klorin Terhadap Lingkungan ?

Klorin terurai ketika dicampur dengan air. Klorin mungkin juga dilepaskan dari air kemudian masuk ke udara dalam kondisi tertentu. Karena sifatnya yang reaktif, klorin tidak akan lama tinggal di tanah atau di dalam air. Tanaman dan hewan juga diketahui tidak mengakumulasi klorin dalam tubuhnya. Namun, studi laboratorium menunjukkan bahwa paparan berulang klorin dari udara dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, darah, jantung, dan sistem pernapasan hewan.

Pewarna Alami Vs Pewarna Sintetik, Mana yang Lebih Berbahaya ?

zat-aditif-pada-makanan

Apa itu zat warna ?

Zat warna/pigmen/dye merupakan salah satu bahan yang dapat memberi, memperbaiki atau meningkatkan warna suatu produk, sehingga menciptakan citra tertentu dan membuat produk lebih menarik. Tujuannya agar produk memiliki warna seragam dan konsisten, sehingga dapat memberikan identitas bagi produk yang berbeda dengan produk lainnya.

Klasifikasi pewarna berdasarkan sumbernya :

  1. Pewarna alami (natural)
  2. Pewarna sintetik (dari penyulingan residu/minyak bumi)

Apa yang dimaksud dengan pewarna sintetis dan apa kelebihan pewarna sintetis?

Pewarna Alami (Natural dye) merupakan bahan pewarna yang diambil dari tumbuh-tumbuhan atau batu-batuan secara langsung. Contoh zat warna alami : cabai merah, daun suji, buah kakao, kunyit, dll

Pewarna sintetis (Synthetic dye) merupakan pewarna buatan yang biasanya dibuat di pabrik-pabrik dan berasal dari suatu zat kimia. Pewarna ini digolongkan sebagai zat yang berbahaya jika dicampurkan kedalam makanan. Contoh zat pewarna sintetis : indigoten, allura red, fast green, tartrazin.

Pewarna alami Pewarna buatan
Lebih aman dikonsumsi. Kadang-kadang memiliki efek negatif tertentu.
Warna yang dihasilkan kurang stabil, mudah berubah oleh pengaruh tingkat keasaman tertentu. Dapat mengembalikan warna asli, kestabilan warna lebih tinggi, tahan lama, dan dapat melindungi vitamin atau zat-zat makanan lain yang peka terhadap cahaya selama penyimpanan.
Untuk mendapatkan warna yang bagus diperlukan bahan pewarna dalam jumlah banyak. Praktis dan ekonomis
Keanekaragaman warnanya terbatas Warna yang dihasilkan lebih beraneka ragam.
Tingkat keseragaman warna kurang baik Keseragaman warna lebih baik.
Kadang-kadang memberi rasa dan aroma yang agak mengganggu. Biasanya tidak menghasilkan rasa dan aroma yang mengganggu.

Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes merupakan zat warna yang larut air dan diperjual belikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna, dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, miuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dll. Lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dye pada bahan dasar, biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat.

Kelebihan pewarna sintetis dibandingkan pewarna alami :

  • Pewarna sintetis memiliki kelebihan dibandingkan dengan pewarna alami, yaitu mewarnai dengan lebih kuat meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit, lebih seragam, lebih stabil terhadap factor lingkungan seperti cahaya, pH, oksidasi dll dan biasanya lebih murah.
  • Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah walaupun sudah mengalami proses dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan.

Mengapa pewarna sintetis bahaya jika digunakan pada makanan?

Proses pembuatan zat warna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat warna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil akhir atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya.  Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,0014% dan timbal (Pb) tidak boleh lebih dari 0,001 %, sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.

Penggunaan zat warna yang diizinkan dan dilarang sudah diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Apa dampak penggunaan pewarna sintetis pada kesehatan ?

Laporan Center for Science in Public Interest menunjukkan, bahwa pewarna makanan dapat menyebabkan hiperaktivitas pada anak-anak, dapat mengakibatkan alergi dan kanker, bahkan dapat memiliki efek negative pada perilaku anak. Selain itu pewarna makanan juga dapat menyebabkan tumor otak, kerusakan ginjal, kanker atau gondok, serta dapat menyebabkan reaksi alergi dan minbulkan maslah kulit, pernafasan seperti batuk berkelanjutan atau asma, masalah pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan sakit kepala. Hal ini disebabkan zat pewarna tersebut mengandung bahan kimia yang tidak dapat dicerna tubuh sehingga mengendap di dalam tubuh. Selain bpj, ambang batas pemakaian menggunakan satuan mg/kg.

Contoh pemakaian zat pewarna sintetis, yaitu penggunaan zat pewarna anato pada es krim yang hanya diperkenankan (ambang batas) 100 mg/kg. Artinya, pada setiap 1 kg es krim hanya diijinkan menambah pewarna anato sebanyak 100 mg.

Pewarna sintetis biru berlian untuk kacang kapri kalengan memiliki ambang batas penggunaan 200 mg/kg. Itu berarti pada setiap 1 kg kacang kapri hanya boleh ditambahkan pewarna biru berlian sebanyak 200 mg.

Berikut contoh-contoh pewarna sintetis yang dilarang untuk makanan dan dampak bagi kesehatan :

  • Rhodamin B pada zat pewarna dapat menyebabkan kanker, keracunan paru-paru, dan penyakit pada hidung, tenggorokan, serta usus.
  • Sunset Yellow pada zat pewarna dapat merusak kromosom.
  • Quinoline Yellow pada pewarna makanan, mengakibatkan hyperplasian, hypertrophy, dan carcinomas kelenjar tiroid.
  • Carmoisine pada zat pewarna, menjadi penyebab kanker hati serta menimbulkan alergi.
  • Ponceau 4R untuk pewarna makanan bisa menimbulkan anemia serta kepekatan hemoglobin.