Kabadan BPPSDMP: Perkuat Tiga Pilar untuk Percepatan Kedaulatan Pangan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian yang baru dilantik, Momon Rusmono menegaskan dirinya akan memperkuat tiga pilar utama yaitu pendidikan, penyuluhan dan pelatihan. Dengan memperkuat tiga pilar, kedaulatan pangan akan lebih cepat tercapai.

“Secara umum, jika kita berbicara BPPSDMP berarti mewujudkan petani, pekebun, peternak, aparat SDM Pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing guna percepatan pencapaian target-target kedaulatan pangan,” kata Momon yang dilantik Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi di Jakarta, Selasa (18/7).

Momon menjabarkan, program untuk pendidikan ada tiga hal yang menjadi pusat perhatian. Pertama, pihaknya akan mentransformasikan pendidikan dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) dari sekolah khusus berorientasi pendidikan menjadi vokasi pertanian. Jadi STTP ke depan diubah menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

“Kita punya tiga Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) di Palembang, Kupang dan Banjarbaru. Kita juga akan tingkatkan kelembagaannya menjadi politeknik. Sehingga kedepannya Kementerian Pertanian (Kementan) akan memiliki 10 politeknik pembangunan pertanian,” ungkapnya.

Kedua, program pendidikan tetap berorientasi regenerasi di petani melalui program-program penumbuhan wirausaha muda pertanian. Namun mahasiswa juga tetap dilibatkan dalam mengawal Upaya Khusus (UPSUS), dengan tujuan utamanya menumbuhkan minat pada generasi muda di sektor pertanian.

Dari aspek pendidikan yang ketiga, Momon mengaku akan tetap membina pendidikan menengah pertanian. Harapannya, akan dihasilkan wirausaha muda tingkat menengah tingkat menengah lulusan SMK.

Karena itu target untuk pendidikan, Momon berharap September tahun depan sudah bisa membuka program studi yang berorientasi pada pendidikan avokasi. Tahun ini semua masih berorientasi pada program studi penyuluhan. “Tahun depan kita akan berupaya keras, supaya sudah menerima program studi yang berorientasi pada rumpun ilmu pertanian terapan,” katanya.

Momon menjelaskan, sama seperti aspek pendidikan, aspek penyuluhan juga ada tiga orientasi. Pertama, bagaimana menggerakan penyuluhan di tingkat kelompok tani. Dengan berbagai upaya, semua kegiatan nanti akan diorientasikan di tingkat balai penyuluhan dan petani.

Kedua, memperkuat balai penyuluhan di tingkat kecamatan. Ketiga, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, penyuluhan harus berorientasi pada teknologi informasi. “Jadi sistem informasi teknologi penyuluhan cyber extention akan ditingkatkan,” tambahnya. Karena itu untuk target penyuluhan, Momon berharap, kinerja penyuluhan di lapangan lebih optimal lagi.

Terkait pelatihan, Momon mengaku pihaknya, akan meningkatkan kualitas pelatihan berorientasi standar kompetensi, sehingga sertifikasi profesi di sektor tenaga pekerja pertanian akan menjadi skala prioritas. Kedua, akan ditumbuhkembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).

“Dari aset pelatihan juga akan kita tingkatkan pelatihan-pelatihan yang lebih dekat ke kebutuhan tenaga kerja, sehingga orientasinya on the job training. Jadi pelatihan yang dekat ke permasalahan,” katanya seraya mengungkapkan, target bidang pelatihan adalah agar kompetensi peserta pelatihan lebih meningkat.  Tia

Editor : Yulianto

Sumber: Tabloid Sinar Tani edisi Selasa, 18 Juli 2017

 

Apakah Beras Anda Mengandung Pemutih Klorin? Kenali Cara Mengetahuinya !!

BC CHLORINE bleaching chlorine

Bagaimana fenomena pemutih beras yang beredar di pasaran ?

Sekarang ini banyak sekali bahan  kimia dan berbagai campuran-campuran lain dibuat dan diciptakan untuk membuat pekerjaan manusia dalam  membuat makanan lebih efektif dan efisien. Tetapi disamping untuk makanan dibuat juga bahan  kimia untuk  pembuatan kebutuhan lain. Contoh penggunaan bleaching chlorine (pemutih klorin) pada beras.

Masalah manipulasi mutu beras sebenarnya sudah sering dilakukan pedagang/penggilingan seperti penyemprotan  zat aromatic dan pemakaian bahan pemutih. Pemakaian bahan pemutih pada beras yang tidak  jelas dan tidak sesuai spesifikasi bahan tambahan yang diperbolehkan untuk pangan, dan konsentrasi pemakaian diatas ambang batas berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaan  klorin dalam  pangan bukan hal yang asing. Klorin sekarang bukan hanya digunakan untuk bahan  pakaian dan kertas saja, tetapi telah digunakan sebagai bahan pemutih atau pengkilat beras, agar beras yang berstandar medium menjadi beras berkualitas super (Darniadi,2010).

Apa itu Klorin dan Bahayanya Bagi Kesehatan ?

Klorin banyak diperjual belikan di pasaran dalam bentuk kalsium hipoklorida atau yang dikenal sebagai kaporit. Bentuknya berupa bubuk atau briket padat. Bentuk klorin lain ada dalam senyawa kimia sodium chlorite yang berbentuk Kristal putih. Klorin sendiri sebenarnya zat kimia  yang berfungsi sebagai desinfektan atau pembunuh kuman.

Klorin memang berguna sebagai bahan pembersih. Sehingga banyak oknum yang membersihkan dan memutihkan beras dengan menggunakan klorin dengan alasan agar mendapatkan untung lebih karena banyak masyarakat yang memilih beras hanya karena bersih dan putih. Padahal sebenarnya dengan menggunakan klorin pada beras memiliki dampak buruk bagi kesehatan  tubuh  manusia. Diantaranya sebagai berikut :
1. Menimbulkan kanker darah.
2. Merusak sel-sel darah.
3. Mengganggu fungsi hati/liver.
4. Dapat merusak sistem pernapasan bila penggunaan klorin mencapai 3-5 ppm dalam beras
5. Dapat mengganggu kesehatan mata, kulit dan batuk-batuk apabila penggunaan klorin  mencapai  15-30 ppm dalam beras.
6. Serta dapat menyebabkan kematian apabila penggunaan klorin diatas 30 ppm dalamberas

Efek toksik klorin yang terutama adalah sifat korosif nya . Kemampuan oksidasi klorin sangat kuat, dimana di dalam air klorin akan melepaskan oksigen dan hydrogen klorida yang menyebabkan kerusakan jaringan. Sebagai altematif, klorin dirubah menjadi asam hipoklorit yang dapat menembus sel dan bereaksi dengan protein sitoplasmik yang dapat merusak struktur sel (U.S.Department Of Health And Human Services, 2007)

Bagaimana Cara Mengidentifikasi adanya klorin secara visual?
Berikut ini adalah  cara untuk mengidentifikasi adanya klorin dalam beras:

BERAS SEHAT BERAS BERBAHAYA
Beras yang sehat justru tidak ter­lalu putih seperti ketan putih. Berasnya berwarna sangat putih, ber­beda dengan warna putih alami yang nampak dari beras seperti biasanya.
Beras alami biasanya akan mening­galkan serbuk kasar jika digeng­gam. Jika diraba, beras ini terasa sangat li­cin seperti minyak. Beras berpemutih tidak meninggalkan serbuk apapun. Walaupun licin, bulir beras akan me­nempel di telapak tangan jika dilepas­kan dari genggaman.
Secara alami menghasilkan bau harum. Contohnya beras Pandan Wangi. Beras berpemutih berbau berbeda dari beras pada umumnya, seperti bau bahan-bahan kimia atau parfum yang agak menyengat.
Tidak Berbau Tengik. Setelah disimpan beberapa hari, beras menggunakan klorin akan mengelu­arkan bau tengik dan terasa sedikit asam. Bila mengalami hal seperti ini, cepat buang beras itu dan jangan sam­pai dimakan.
Beras alami saat dicuci akan ber­warna keruh seperti air sabun. Saat dicuci, beras yang mengandung pemutih tidak berwarna keruh.
Beras yang mengandung bahan klorin setelah dimasak rasanya menjadi ku­rang enak dan warnanya menjadi tidak seputih seperti semula.
Jika beras direndam dalam air selama 3 hari tetap putih dan tidak berbau.
Ketika sudah dimasak dan ditaruh dalam penghangat nasi dalam semalam nasi sudah menimbulkan bau tidak sedap.

Bagaimana Dampak Klorin Terhadap Lingkungan ?

Klorin terurai ketika dicampur dengan air. Klorin mungkin juga dilepaskan dari air kemudian masuk ke udara dalam kondisi tertentu. Karena sifatnya yang reaktif, klorin tidak akan lama tinggal di tanah atau di dalam air. Tanaman dan hewan juga diketahui tidak mengakumulasi klorin dalam tubuhnya. Namun, studi laboratorium menunjukkan bahwa paparan berulang klorin dari udara dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, darah, jantung, dan sistem pernapasan hewan.

Pewarna Alami Vs Pewarna Sintetik, Mana yang Lebih Berbahaya ?

zat-aditif-pada-makanan

Apa itu zat warna ?

Zat warna/pigmen/dye merupakan salah satu bahan yang dapat memberi, memperbaiki atau meningkatkan warna suatu produk, sehingga menciptakan citra tertentu dan membuat produk lebih menarik. Tujuannya agar produk memiliki warna seragam dan konsisten, sehingga dapat memberikan identitas bagi produk yang berbeda dengan produk lainnya.

Klasifikasi pewarna berdasarkan sumbernya :

  1. Pewarna alami (natural)
  2. Pewarna sintetik (dari penyulingan residu/minyak bumi)

Apa yang dimaksud dengan pewarna sintetis dan apa kelebihan pewarna sintetis?

Pewarna Alami (Natural dye) merupakan bahan pewarna yang diambil dari tumbuh-tumbuhan atau batu-batuan secara langsung. Contoh zat warna alami : cabai merah, daun suji, buah kakao, kunyit, dll

Pewarna sintetis (Synthetic dye) merupakan pewarna buatan yang biasanya dibuat di pabrik-pabrik dan berasal dari suatu zat kimia. Pewarna ini digolongkan sebagai zat yang berbahaya jika dicampurkan kedalam makanan. Contoh zat pewarna sintetis : indigoten, allura red, fast green, tartrazin.

Pewarna alami Pewarna buatan
Lebih aman dikonsumsi. Kadang-kadang memiliki efek negatif tertentu.
Warna yang dihasilkan kurang stabil, mudah berubah oleh pengaruh tingkat keasaman tertentu. Dapat mengembalikan warna asli, kestabilan warna lebih tinggi, tahan lama, dan dapat melindungi vitamin atau zat-zat makanan lain yang peka terhadap cahaya selama penyimpanan.
Untuk mendapatkan warna yang bagus diperlukan bahan pewarna dalam jumlah banyak. Praktis dan ekonomis
Keanekaragaman warnanya terbatas Warna yang dihasilkan lebih beraneka ragam.
Tingkat keseragaman warna kurang baik Keseragaman warna lebih baik.
Kadang-kadang memberi rasa dan aroma yang agak mengganggu. Biasanya tidak menghasilkan rasa dan aroma yang mengganggu.

Kelarutan pewarna sintetik ada dua macam yaitu dyes dan lakes. Dyes merupakan zat warna yang larut air dan diperjual belikan dalam bentuk granula, cairan, campuran warna, dan pasta. Digunakan untuk mewarnai minuman berkarbonat, miuman ringan, roti, kue-kue produk susu, pembungkus sosis, dll. Lakes adalah pigmen yang dibuat melalui pengendapan dari penyerapan dye pada bahan dasar, biasa digunakan pada pelapisan tablet, campuran adonan kue, cake dan donat.

Kelebihan pewarna sintetis dibandingkan pewarna alami :

  • Pewarna sintetis memiliki kelebihan dibandingkan dengan pewarna alami, yaitu mewarnai dengan lebih kuat meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit, lebih seragam, lebih stabil terhadap factor lingkungan seperti cahaya, pH, oksidasi dll dan biasanya lebih murah.
  • Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah walaupun sudah mengalami proses dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan.

Mengapa pewarna sintetis bahaya jika digunakan pada makanan?

Proses pembuatan zat warna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat warna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu senyawa antara yang kadang-kadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil akhir atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya.  Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,0014% dan timbal (Pb) tidak boleh lebih dari 0,001 %, sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.

Penggunaan zat warna yang diizinkan dan dilarang sudah diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai Bahan Tambahan Pangan (BTP).

Apa dampak penggunaan pewarna sintetis pada kesehatan ?

Laporan Center for Science in Public Interest menunjukkan, bahwa pewarna makanan dapat menyebabkan hiperaktivitas pada anak-anak, dapat mengakibatkan alergi dan kanker, bahkan dapat memiliki efek negative pada perilaku anak. Selain itu pewarna makanan juga dapat menyebabkan tumor otak, kerusakan ginjal, kanker atau gondok, serta dapat menyebabkan reaksi alergi dan minbulkan maslah kulit, pernafasan seperti batuk berkelanjutan atau asma, masalah pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan sakit kepala. Hal ini disebabkan zat pewarna tersebut mengandung bahan kimia yang tidak dapat dicerna tubuh sehingga mengendap di dalam tubuh. Selain bpj, ambang batas pemakaian menggunakan satuan mg/kg.

Contoh pemakaian zat pewarna sintetis, yaitu penggunaan zat pewarna anato pada es krim yang hanya diperkenankan (ambang batas) 100 mg/kg. Artinya, pada setiap 1 kg es krim hanya diijinkan menambah pewarna anato sebanyak 100 mg.

Pewarna sintetis biru berlian untuk kacang kapri kalengan memiliki ambang batas penggunaan 200 mg/kg. Itu berarti pada setiap 1 kg kacang kapri hanya boleh ditambahkan pewarna biru berlian sebanyak 200 mg.

Berikut contoh-contoh pewarna sintetis yang dilarang untuk makanan dan dampak bagi kesehatan :

  • Rhodamin B pada zat pewarna dapat menyebabkan kanker, keracunan paru-paru, dan penyakit pada hidung, tenggorokan, serta usus.
  • Sunset Yellow pada zat pewarna dapat merusak kromosom.
  • Quinoline Yellow pada pewarna makanan, mengakibatkan hyperplasian, hypertrophy, dan carcinomas kelenjar tiroid.
  • Carmoisine pada zat pewarna, menjadi penyebab kanker hati serta menimbulkan alergi.
  • Ponceau 4R untuk pewarna makanan bisa menimbulkan anemia serta kepekatan hemoglobin.

AWAS !! BAHAYA KONTAMINASI RHODAMIN B YANG BERSIFAT KARSINOGENIK DITAMBAHKAN PADA MAKANAN ANDA

 Rhodamin B Test KIt

Zat pewarna yang digunakan dalam produksi pangan dapat berupa zat pewarna alami maupun sintetis/buatan. Zat pewarna alami dapat diperoleh dari pigmen tanaman, misalnya warna hijau yang didapat dari klorofil dedaunan hijau dan warna oranye-merah yang berasal dari karotenoid wortel. Sedangkan zat pewarna sintetis merupakan zat pewarna yang sengaja dibuat melalui pengolahan industri. Zat pewarna sintetis biasanya digunakan karena komposisinya lebih stabil, Pada produk pangan yang perlu dihindari adalah penggunaan zat pewarna yang berlebihan, tidak tepat, dan penggunaan zat pewarna berbahaya yang tidak diperuntukkan untuk pangan karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan, contohnya adalah Rhodamin B

Penggunaan zat pewarna baik alami maupun buatan sebagai bahan tambahan makanan telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai Bahan Tambahan Makanan. Sedangkan zat warna yang dilarang digunakan dalam pangan tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 239/MenKes/Per/V/85 mengenai Zat Warna.

rhodamin pewarna

Rhodamin B adalah salah satu bahan pewarna sintesis makanan yang dilarang penggunaannya di Indonesia utamanya sejak 1985 melalui Peraturan Menteri Kesehatan. WHO secara resmi juga telah mengumumkan bahwa zat tersebut berbahaya karena kandungan logam berat dan sifat kimiawinya

Rhodamin B merupakan pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, dan dalam larutan akan berwarna merah terang  berpendar atau berfluorosensi. Rhodamin B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes yang digunakan pada industri tekstil dan kertas, sebagai pewarna kain, kosmetika, produk pembersih mulut, dan sabun. Nama lain rhodamin B adalah D and C Red no 19. Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine, dan Brilliant Pink.

Sejauh ini penggunaan rhodamin B sebagai zat tambahan makanan dikalangan masyarakat masih cukup luas, karena harga rhodamin b masih relative lebih murah dan warna yang dihasilkan pun lebih menarik dari pada pewarna pangan biasa sehingga masyarakat masih menggunakan jenis pewarna ini . Adanya produsen yang menggunakan rhodamin B sebagai bahan tambahan dalam makanan dapat disebabkan oleh pengetahuan yang tidak memadai mengenai bahaya penggunaan bahan kimia tersebut pada kesehatan dan juga karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah. Penggunaan rhodamin B dalam pangan tentunya berbahaya bagi kesehatan.  Rhodamin B sering disalahgunakan pada pembuatan kerupuk, terasi, cabe merah giling, agar-agar, aromanis/kembang gula, manisan, sosis, sirup, minuman, dan lain-lain.

Ciri-ciri pangan yang mengandung rhodamin B antara lain :

  • warnanya cerah mengkilap dan lebih mencolok, terkadang warna terlihat tidak homogen (rata)
  • ada gumpalan warna pada produk
  • bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit
  • Biasanya produk pangan yang mengandung rhodamin B tidak mencantumkan kode, label, merek, atau identitas lengkap lainnya.

Mengapa Rhodamin B itu berbahaya ??

Bahaya Rhodamin B bagi Kesehatan Menurut WHO, rhodamin B berbahaya bagi kesehatan manusia karena sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Rhodamin B mengandung senyawa klorin (Cl). Senyawa klorin merupakan senyawa halogen yang berbahaya dan reaktif. Jika tertelan, maka senyawa ini akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan cara mengikat senyawa lain dalam tubuh, hal inilah yang bersifat racun bagi tubuh. Selain itu, rhodamin B juga memiliki senyawa pengalkilasi (CH3-CH3) yang bersifat radikal sehingga dapat berikatan dengan protein, lemak, dan DNA dalam tubuh.

Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamin B termasuk bahan karsinogen (penyebab kanker) yang kuat. Uji toksisitas rhodamin B yang dilakukan terhadap mencit dan tikus telah membuktikan adanya efek karsinogenik tersebut.

Apa dampak Rhodamin B bagi kesehatan ?

Konsumsi rhodamin B dalam jangka panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati.

Bagaimana jika tertelan Rhodamin B ?

Perlu diketahui bahwa rhodamin B juga dapat menimbulkan efek akut jika tertelan sebanyak 500 mg/kg BB, yang merupakan dosis toksiknya. Efek toksik yang mungkin terjadi adalah iritasi saluran cerna. Jika hal tersebut terjadi maka tindakan yang harus dilakukan antara lain segera berkumur, jangan menginduksi muntah, serta periksa bibir dan mulut jika ada jaringan yang terkena zat beracun. Jika terjadi muntah, letakan posisi kepala lebih rendah dari pinggul untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernapasan (aspirasi paru). Longgarkan baju, dasi, dan ikat pinggang untuk melancarkan pernapasan. Jika diperlukan segera bawa pasien ke rumah sakit atau dokter terdekat.

Bagaimana cara menghindari penggunaan zat warna buatan pada produk makanan ?

  1. Baca jenis dan jumlah pewarna yang di gunakan dalam produk tersebut
  2. Perhatikan label pada setiap kemasan produk. Pastikan tercantum izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang tertulis :”POM dan Nomor izin pendaftaran”.Atau jika produk tersebut hasil industri rumah tangga maka harus ada nomor pendaftarannya yang tertulis : “P-IRT dan nomor izin pendaftaran”.
  3. Untuk produk makanan yang tidak di kemas kusus, sebaiknya pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok, karena kemungkinan warna tersebut berasal dari bahan pewarna bukan makanan (non food grade) seperti pewarna textile.

Keluarga Sehat Bebas Formalin… !!!

formalin-test-kit keluarga-sehat-bebas-formalin

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.

Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama berbeda-beda antara lain :

  • Formol
  • Morbicid
  • Methanal
  • Formic aldehyde
  • Methyl oxide
  • Oxymethylene
  • Methylene aldehyde
  • Oxomethane
  • Formoform
  • Formalith
  • Karsan
  • Methylene glycol
  • Paraforin
  • Polyoxymethylene glycols
  • Superlysoform
  • Tetraoxymethyle

Mengapa formalin perlu diwasapadai ??

Sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium,ditemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah seperti ini dilakukan produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin, dan khususnya digunakan dalam pengawetan ikan segar akan tidak cepat mengalami kemunduran mutu atau busuk. Telah kita ketahui bahwa ikan termasuk dalam perishable food atau makanan yang cepat sekali membusuk. Oleh karena itu, para masyarakat menggunakan formalin dengan kadar yang tinggi agar ikan terlihat segar dan tidak mudah busuk.

Faktor yang menyebabkan masyarakat menggunakan formalin sebagai zat pengawet pada ikan segar adalah agar usaha mereka menguntungkan. Hal ini dikarenakan ikan yang diberi formalin terlihat masih sangat segar dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Namun hal yang perlu diingat adalah tidak semua produsen menggunakan formalin, namun perdaran formalin ini perlu di waspadai.

Dasar hukum yang melarang penggunaan formalin di antaranya UU No 7/1996 tentang Pangan dan UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.  Formalin dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999. Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan’

Dampak formalin pada kesehatan manusia

  • Akut : efek pada kesehatan manusia langsung terlihat seperti :

 iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing

  • Kronik : efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang : iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, menstruasi dan pada hewan percobaan dapat menyebabkan kanker sedangkan pada manusia diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang, karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh.

Bagaimana ciri-ciri produk pangan yang mengandung formalin ??

  • Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet beberapa hari dan tidak mudah busuk. ‘
  • Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin. ‘
  • Ayam potong yang berwarna putih bersih, awet dan tidak mudah busuk. ‘
  • Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.

 

TEKNIK PREPARASI PADA SAMPEL BUAH DAN SAYUR

Dalam identifikasi atau analisa diperlukan preparasi sampel dan hasil identifikasi atau analisa yang baik bisa dicapai dengan menggunakan teknik pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan representatif. Pengambilan perlu memperhatikan homogenitas sampel yaitu efek ukuran dan berat partikel sangat berpengaruh terhadap homogenitas bahan. Teknik preparasi sampel adalah bagian dari proses analisis yang sangat penting. Mengapa ? Karena teknik preparasi sampel adalah proses yang harus dilakukan untuk menyimpan sampel sehingga siap untuk dianalisa menggunakan metode atau instrumentasi yang sesuai. Preparasi sampel adalah pengurangan massa dan ukuran dari gross sampel sampai pada massa dan ukuran yang cocok untuk dianalisa. Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti dan dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala yang diamati. Adapun parameter yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel, yaitu :

  • Homogenitas sampel

Efek ukuran dan berat partikel sangat berpenagruh terhadap homogenitas bahan, dimana bagian yang berukuran dan berat lebih besar cenderung akan berpisah dengan bagian yang lebih kecil dan ringan. Oleh karena itu sebelum sampel diambil, bahan harus dicampur secara merata atau sampel diambil secara acakdari beberapa bagian baik bagian dasar, tengah maupun bagian atas sehingga diperoleh sampel yang representative atau mewakili. Begitu pula dengan tanaman disuatu lahan, kualitas pada setiap bagian tanaman atau lahan mempunyai kualitas yang berbeda.

  • Cara pengambilan sampel

Sampel dari bahan dapat diambil secara selektif atau non-selektif. Selektif adalahpengambilan sampel secara acak dari bagian tertentu suatu bahan. Misalnya daun sawi, dipisahkan pengambilan batang dan daun. Non-selektif adalah pengambilan sampel secara acak dari keseluruhan bahan tanpa memperhatikan atau meisahkan bagian dari bahan tersebut. Misalnya daun sawi tadi diambil dari seluruh bagian sampel, baik daun maupun batang dipotong-potong dan dicampur secara merata agar diperoleh bahan yang homogen.

  • Jumlah Sampel

Jumlah sampel yang diguanakan sangat berpengaruh terhadap tingkat representative sampel yang diambil. Sebagai pedoman sampel yang diambil adalah 10 persen dari jumlah bahan.

  • Penanganan sampel

Sampel yang telah diambil harus segera diamankan agar tidak rusak atau berubah sehingga mempunyai sifat yang berbeda dari mana sampel tersebut diambil.

  • Prosesing Sampel

Untuk tujuan evaluasi terutama evaluasi secara mikroskopis, kimia dan biologis, semua sampel harus digiling  sehingga diperoleh sampel yang halus.

Sayur dan buah merupakan komoditas hortikultura yang banyak mengandung vitamin dan mineral, selain itu juga memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber pendapatan petani bahkan sumber devisa negara. Konsumsi sayur dan buah pada saat ini sudah mulai meningkat, karena mulai adanya kesadaran bahwa dengan mengkonsumsi sayur dan buah berarti hidup akan bertambah sehat.

Namun sayangnya, dalam kegiatan produksi sayur dan buah sering menghadapi kendala serangan hama dan penyakit yang menyebabkan gagal panen atau minimal hasilnya berkurang. Salah satu cara yang selama ini digunakan untuk mengatasinya adalah penggunaan pestisida. Di sisi lain pestisida merupakan bahan kimia, sehingga pemakaian yang berlebihan dapat menjadi sumber pencemar pada bahan pangan, air, dan lingkungan hidup.

Masalah utama bagi kesehatan masyarakat adalah adanya residu pestisida dalam makanan, termasuk dalam sayur dan buah. Residu yang ditinggalkan dapat secara langsung maupun tidak langsung sampai ke manusia. Residu pestisida dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari dalam jangka panjang dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang dapat ditunjukkan dengan adanya gejala akut (sakit kepala, mual, muntah, dan lain-lain) dan gejala kronis (kehilangan nafsu makan, tremor, kejang otot, dan lain-lain) (Isnawati, 2005).

Residu pestisida yang terkandung dalam makanan akan tertimbun dalam tubuh dan menimbulkan berbagai reaksi berbahaya yang secara perlahan-lahan menggerogoti dan merusak sel-sel tubuh. Setelah tiba waktunya, muncullah berbagai jenis penyakit berbahaya, seperti kanker, ginjal, hati, jantung, stroke, gangguan saluran pencernaan, susunan syaraf pusat, gangguan otak, limpa, atau pankreas. Penyakit ini bisa timbul beberapa tahun kemudian setelah seseorang mengkonsumsi sayur atau buah yang mengandung zat berbahaya tersebut. Melihat berbagai fenomena tersebut, maka perlu dilakukan pengujian residu pestisida pada buah dan sayur yang beredar demi keamanan masyarakat yang mengkonsumsi.

Adapun teknik preparasi sampel sebagai berikut :

sampling(1)
Pengambilan Sampel Berlawanan
sampling
Pengambilan Sampel Diagonal
sampling1
Pengambilan Sampel Acak

                             

Beberapa teknik sampling dengan sampel sayur dan buah :

  1. Untuk tanaman berakar atau buah

sampling sayur buah

  • Tanah atau pasir yang menempel pada buah dibersihkan
  • Akar dan batang buah dibuang
  1. Untuk sayur-buah dengan kulit:

sampling sayur buah1

  • sayur-buah, yang memiliki bentuk bulat, dibagi menjadi 4 – 6 bagian.
  • Pilih sisi yang berlawanan menjadi 2 bagian kemudian dipotong.
  1. Untuk Sampel daun :

sampling sayur buah2

  • Akar daun dibuang
  • dibagi menjadi 2 bagian dari sisi panjang di batang dan kemudian pilih salah satu dan memotong secara menyeluruh
  1. Untuk kacang panjang :

Sampel dibagi menjadi 3 bagian, dicampur secara bersamaan dan pilih 200-300 gram dan poton g secara menyeluruh.

sampling sayur buah223

  1. Untuk sayuran dan buah yang biasa hanya di potong menjadi kotak-kotak kecil seperti pada gambar.

(Tapi untuk sayur dan buah yang mempunyai banyak kandungan air seperti tomat, dipotong secara menyeluruh)

5

Tujuan pengambilan sampel agar  sampel yang diambil dapat memberikan informasi yang cukup untuk dapat mengestimasi jumlah populasinya.  Jika kita ingin melakukan peneitian sampel pada suatu populasi besar, kita tidak perlu meneliti setiap unit dari populasi akan tetapi cukup hanya mengambil sebagian saja pada sampel.