Kabadan BPPSDMP: Perkuat Tiga Pilar untuk Percepatan Kedaulatan Pangan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian yang baru dilantik, Momon Rusmono menegaskan dirinya akan memperkuat tiga pilar utama yaitu pendidikan, penyuluhan dan pelatihan. Dengan memperkuat tiga pilar, kedaulatan pangan akan lebih cepat tercapai.

“Secara umum, jika kita berbicara BPPSDMP berarti mewujudkan petani, pekebun, peternak, aparat SDM Pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing guna percepatan pencapaian target-target kedaulatan pangan,” kata Momon yang dilantik Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman bersama Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi di Jakarta, Selasa (18/7).

Momon menjabarkan, program untuk pendidikan ada tiga hal yang menjadi pusat perhatian. Pertama, pihaknya akan mentransformasikan pendidikan dari Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) dari sekolah khusus berorientasi pendidikan menjadi vokasi pertanian. Jadi STTP ke depan diubah menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian.

“Kita punya tiga Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) di Palembang, Kupang dan Banjarbaru. Kita juga akan tingkatkan kelembagaannya menjadi politeknik. Sehingga kedepannya Kementerian Pertanian (Kementan) akan memiliki 10 politeknik pembangunan pertanian,” ungkapnya.

Kedua, program pendidikan tetap berorientasi regenerasi di petani melalui program-program penumbuhan wirausaha muda pertanian. Namun mahasiswa juga tetap dilibatkan dalam mengawal Upaya Khusus (UPSUS), dengan tujuan utamanya menumbuhkan minat pada generasi muda di sektor pertanian.

Dari aspek pendidikan yang ketiga, Momon mengaku akan tetap membina pendidikan menengah pertanian. Harapannya, akan dihasilkan wirausaha muda tingkat menengah tingkat menengah lulusan SMK.

Karena itu target untuk pendidikan, Momon berharap September tahun depan sudah bisa membuka program studi yang berorientasi pada pendidikan avokasi. Tahun ini semua masih berorientasi pada program studi penyuluhan. “Tahun depan kita akan berupaya keras, supaya sudah menerima program studi yang berorientasi pada rumpun ilmu pertanian terapan,” katanya.

Momon menjelaskan, sama seperti aspek pendidikan, aspek penyuluhan juga ada tiga orientasi. Pertama, bagaimana menggerakan penyuluhan di tingkat kelompok tani. Dengan berbagai upaya, semua kegiatan nanti akan diorientasikan di tingkat balai penyuluhan dan petani.

Kedua, memperkuat balai penyuluhan di tingkat kecamatan. Ketiga, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, penyuluhan harus berorientasi pada teknologi informasi. “Jadi sistem informasi teknologi penyuluhan cyber extention akan ditingkatkan,” tambahnya. Karena itu untuk target penyuluhan, Momon berharap, kinerja penyuluhan di lapangan lebih optimal lagi.

Terkait pelatihan, Momon mengaku pihaknya, akan meningkatkan kualitas pelatihan berorientasi standar kompetensi, sehingga sertifikasi profesi di sektor tenaga pekerja pertanian akan menjadi skala prioritas. Kedua, akan ditumbuhkembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).

“Dari aset pelatihan juga akan kita tingkatkan pelatihan-pelatihan yang lebih dekat ke kebutuhan tenaga kerja, sehingga orientasinya on the job training. Jadi pelatihan yang dekat ke permasalahan,” katanya seraya mengungkapkan, target bidang pelatihan adalah agar kompetensi peserta pelatihan lebih meningkat.  Tia

Editor : Yulianto

Sumber: Tabloid Sinar Tani edisi Selasa, 18 Juli 2017