August 6th, 2021

Pentingnya Mengetahui Bahaya Pestisida Golongan Organophosphate dan Carbamate

Dewasa ini penggunaan pestisida sangat dibutuhkan oleh para petani atau petugas perkebunan, agar menjaga kualitas tanaman dari serangan hama, gulma dan penyakit tumbuhan lainnya. Seiring dengan penggunaannya, tentu perlu sekali memperhatikan dosis pestisida yang ditambahkan. Mengapa? Hal ini menyangkut pada bahaya yang dapat berdampak pada pengguna pestisida, konsumen, mikroorganisme dan biota yang ada di perairan.

Tahun 1996 data Departemen Kesehatan tentang monitoring Keracunan Pestisida Organofosfat dan Karbamat pada petani penjamah pestisida organofosfat dan karbamat di 27 Provinsi Indonesia menunjukkan 61,82% petani mempunyai aktivitas kolinesterase normal, 1,3% keracunan berat, 9,98% keracunan sedang dan 26,89% keracunan ringan. 

Pestisida jenis insektisida organofosfat dan karbamat paling banyak digunakan petani dalam membasmi serangga. Selain itu pestisida jenis ini mudah dimonitor dengan mengukur kadar kolinesterase darah, karena itu Departemen Kesehatan menggunakan kadar kolinesterase dalam darah untuk memonitor keracunan pestisida di tingkat petani. 

Organofosfat merupakan ester asam fosfat atau asam tiofosfat. Pestisida ini umumnya merupakan racun pembasmi serangga yang paling toksik secara akut terhadap binatang bertulang belakang seperti ikan, burung, cicak dan mamalia. Pestisida ini mempunyai efek memblokade penyaluran implus syaraf dengan cara mengikat enzim asetilkolinesterase. Keracunan kronis pestisida golongan organofosfat berpotensi karsinogenik.

Asetilkolin -----------------> Kolin + Asam Asetat

                 Kolinesterase

                                     |

                                     |

                                     |

                 Organofosfat


Gambar Reaksi Pengikatan Kolinesterase dengan Pestisida Organofosfat

Sedangkan untuk Karbamat merupakan ester asam N-metilkarbamat. Bekerja menghambat asetilkolinesterase. Tetapi pengaruhnya terhadap enzim tersebut tidak berlangsung lama, karena prosesnya cepat reversibel. Apabila timbul gejala, gejala itu tidak bertahan lama dan cepat kembali normal. Pada umumnya, pestisida golongan ini dapat bertahan dalam tubuh antara 1-24 jam sehingga cepat diekskresikan.

Keracunan karbamat bersifat akut yang dapat terjadi melalui inhalasi, gastrointestinal (oral) atau kontak kulit. Karbamat dapat menimbulkan efek neurotoksik melalui hambatan enzim asetilkolinesterase (AchE) pada sinapsis syaraf dan myoneural junctions yang bersifat reversibel (BARON, 1994; RISHER et al., 1987; IPCSINTOX, 1985). Gejala klinis keracunan karbamat merupakan reaksi kolinergik yang berlangsung selama 6 jam. Tingkat keparahannya tergantung pada jumlah karbamat yang terkonsumsi dengan gejala klinis berupa pusing, kelemahan otot, diare, berkeringat, mual, muntah, tidak ada respon pada pupil mata, penglihatan kabur, sesak napas dan konvulsi (RISHER et al., 1987). 

Keracunan karbamat pada manusia dilaporkan pernah terjadi di Spanyol pada tahun 1998 (ROLDÁN-TAPIA et al., 2005) dengan gejala berkeringat, tremor, myosis, gangguan pernapasan, dan muntah. Karbamat, khususnya karbofuran dilaporkan dapat menimbulkan kanker paru-paru pada manusia (WESSELING et al., 1999; BONNER et al., 2005).

Melihat dari bahaya dan beberapa kasus yang dijabarkan di atas, penting sekali untuk kita agar mengkonsumsi pangan yang terhindar dari cemaran pestisida yang berlebihan.

Sumber:

Mariana Raini.2007.Toksikologi Pestisida dan Penanganan Akibat Keracunan Pestisida.Media Litbang Kesehatan Volume XVII Nomor 3.

Indra Ningsih.2008.Pengaruh Penggunaan Insektisida Karbamat Terhadap Kesehatan Ternak Dan Produknya.Wartazoa Vol 18 No. 2.