August 18th, 2021

Mengenal Lebih Jauh Aflatoxin

Mikotoksin

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang diproduksi jamur, yang keberadaannya perlu diantisipasi karena merupakan senyawa dengan sifat beracun bagi manusia dan hewan.

Diantara beberapa mikotoksin pada pangan segar asal tumbuhan yaitu Aflatoksin (AFT) dan Okratoksin A (OKA) yang menjadi perhatian utama, disebabkan keberadaan dan sifat toksisitasnya yang sangat tinggi.

Aflatoksin

Aflatoksin diproduksi oleh Aspergillus terutama Aspergillus flavus dan A. Parasiticus, mempunyai sifat hepatotoxic, teratogenik, mutagenik dan karsinogenik. Mikotoksin OTA digolongkan sebagai senyawa yang nefrotoksik, bersifat karsinogenik, imunosupresi, dan teratogenik. Sumber penghasil OTA adalah spesies jamur patogen tanaman antara lain Aspergillus, dan Penicillium, namun penghasil utama adalah Aspergillus ochraceus dan A. Carbonarius.

Aflatoxin berpotensi menyebabkan kerusakan hati, pengerasan hati (cirrhosis) dan kanker hati (Hongkong Food and Environmental Hygiene 2001 dalam Parmawati et al 2006).

Jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus mampu menghasilkan empat senyawa utama aflatoxin (B1, B2, G1 dan G2) dan Aflatoxin M1 dan M2 (M: Milk yang berarti susu) yang merupakan turunan aflatoxin B1 dan B2 pada lingkungan yang mendukung (Guo et al 2009).

Aspergillus flavus secara umum memproduksi golongan toksin B, dengan demikian jagung, biji kapas dan kacang tanah yang terkolonisasi A. flavus umumnya terkontaminasi oleh aflatoxin B1 (Abbas et al. 2009). Selain kacang tanah, beragam komoditas pertanian berpeluang terkontaminasi aflatoxin, antara lain jagung, biji kapas, beras dan produk dari ternak yang mengkonsumsi bahan tersebut, seperti susu dan telur.

Aflatoxin adalah senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. Senyawa ini bersifat toksik yang mengganggu kesehatan manusia dan ternak, antara lain melalui gangguan fungsi hati. Di antara dua belas macam aflatoxin, aflatoxin B1 paling banyak dijumpai di Indonesia dan merupakan senyawa yang paling berbahaya sehingga digunakan sebagai kriteria ambang batas maksimum aflatoxin dalam bahan pangan dan pakan. Kontaminasi aflatoxin B1 yang tinggi dilaporkan pada biji kacang tanah yang berada pada pedagang pengecer di pasar tradisional di banyak tempat di Indonesia. Senyawa aflatoxin mengakibatkan aflatoksikosis pada manusia atau ternak karena menghirup atau mengkonsumsi makanan atau pakan terkontaminasi aflatoxin dalam kadar yang tinggi.


Sifat dan Macam Aflatoxin

Aflatoxin bersifat karsinogenik, mutagenik dan immunosuppressive (IARC 1987 dala Mobeen et al. 2011). Oleh karena itu, aflatoxin termasuk golongan karsinogen kelas 1 terhadap manusia (IARC dalam Bankole et al. 2005, Mutegi et al 2013), serta mempunyai predikat sebagai hepatotoxic, carcino toxic dan teratogenic (Kich et al. 2009; Jha et al. 2013; Abdalla et al. 2014). Aflatoxin berpotensi menyebabkan kerusakan hati, pengerasan hati (cirrhosis) dan kanker hati (Hong Kong Food and Environmental Hygiene 2001 dalam Parmawati et al 2006).

Jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus mampu menghasilkan empat senyawa utama aflatoxin (B1, B2, G1 dan G2) dan Aflatoxin M1 dan M2 (M: Milk yang berarti susu) yang merupakan turunan aflatoxin B1 dan B2 pada lingkungan yang mendukung (Guo et al 2009). Aspergillus flavus secara umum memproduksi golongan toksin B, dengan demikian jagung, biji kapas dan kacang tanah yang terkolonisasi A. flavus umumnya terkontaminasi oleh aflatoxin B1 (Abbas et al. 2009). Selain kacang tanah, beragam komoditas pertanian berpeluang terkontaminasi aflatoxin, antara lain jagung, biji kapas, beras dan produk dari ternak yang mengkonsumsi bahan tersebut, seperti susu dan telur.

Regulasi

SK Dirjen Peternakan No. 524/TN.250/Kpts/DJP/Deptan/1997 tentang Batas Maksimum Aflatoksin yang Masih Aman untuk Dikonsumsi Ternak

SK KBPOM RI No. HK.00.05.1.4057 tahun 2004 tentang Batas Maksimum Aflatoksin dalam Produk Pangan