+6221 - 88385761 / +62821 2255 5339       admin@purnamalab.com
Purnamalab News Update

Boraks di Menu MBG, 4 Guru Gatal Mulut Setelah Mencicipi

September 25th, 2026

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian setelah Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar menemukan kandungan boraks pada salah satu sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa, Kecamatan Mangarabombang. Temuan tersebut muncul setelah sejumlah guru di UPT SDN 58 Lengkese mengeluhkan rasa makanan yang berbeda dan gatal di area mulut setelah mencicipi menu sebelum dibagikan kepada siswa.

Kronologi Temuan Boraks pada Menu MBG di Takalar

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 21 September 2026, di UPT SDN 58 Lengkese, Kabupaten Takalar. Sebelum makanan MBG dibagikan kepada siswa, sejumlah guru terlebih dahulu mencicipi menu yang dikirimkan oleh SPPG Topejawa.

Setelah mencicipi makanan tersebut, empat guru dilaporkan mengalami keluhan berupa rasa gatal di area mulut. Karena adanya keluhan tersebut, pihak sekolah memutuskan untuk tidak membagikan makanan kepada siswa sebagai langkah kehati-hatian. Sekolah diketahui memiliki 86 siswa penerima manfaat program MBG.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar bersama tim terkait melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dan mengambil sampel makanan untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Dari dua sampel makanan yang diperiksa, salah satunya ditemukan mengandung boraks. Namun, Dinas Kesehatan masih melakukan penelusuran untuk memastikan jenis makanan yang mengandung boraks serta mengevaluasi proses pengolahan dan rantai pasoknya.

Penting untuk dicatat bahwa temuan boraks pada salah satu sampel belum secara otomatis membuktikan bahwa zat tersebut menjadi penyebab keluhan yang dialami para guru. Berdasarkan keterangan Dinkes Takalar yang diberitakan media, penyebab keluhan masih dalam proses penelusuran.

Apa Itu Boraks dan Mengapa Berbahaya bagi Pangan?

Boraks atau natrium tetraborat merupakan bahan kimia yang memiliki berbagai penggunaan di luar pangan. Boraks termasuk bahan yang dilarang digunakan pada pangan karena dapat membahayakan kesehatan apabila masuk ke dalam tubuh. BPOM mencatat boraks sebagai salah satu bahan berbahaya yang sering disalahgunakan dalam pangan.

Penggunaan boraks pada makanan perlu diwaspadai karena paparan atau konsumsi boraks dapat memberikan dampak negatif terhadap tubuh. BPOM menjelaskan bahwa boraks bersifat toksik terhadap sel dan apabila tertelan dapat memberikan efek pada sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. Pada paparan yang lebih tinggi, konsumsi boraks dapat menyebabkan keluhan seperti mual, nyeri perut, muntah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan sakit kepala.

BPOM juga mengingatkan bahwa bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan pewarna tekstil yang disalahgunakan pada pangan berpotensi menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk iritasi saluran pencernaan serta gangguan pada organ seperti hati, ginjal, jantung, otak, dan sistem saraf.

Karena itu, boraks tidak seharusnya digunakan sebagai bahan tambahan dalam makanan, baik untuk meningkatkan tekstur, daya tahan, maupun karakteristik tertentu pada produk pangan.

Pentingnya Pengujian Keamanan Pangan

Kasus seperti temuan boraks pada menu MBG di Takalar menunjukkan pentingnya pengawasan dan pengujian keamanan pangan pada setiap tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.

Pemeriksaan bahan berbahaya dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu mengidentifikasi potensi risiko sebelum makanan dikonsumsi oleh masyarakat. Untuk program penyediaan makanan dalam jumlah besar, pengawasan menjadi semakin penting karena satu sumber pangan dapat didistribusikan kepada banyak penerima manfaat.

Pengujian menggunakan metode yang sesuai dapat membantu memastikan bahwa makanan yang akan dikonsumsi memenuhi persyaratan keamanan pangan dan tidak mengandung bahan kimia berbahaya yang dilarang.

Keamanan Pangan Membutuhkan Pengawasan Berkelanjutan

Keamanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, penyedia makanan, pelaku usaha, laboratorium, tenaga pengawas, hingga masyarakat memiliki peran dalam memastikan pangan yang beredar tetap aman.

Temuan di Takalar juga menjadi pengingat bahwa pemeriksaan dan pengawasan pangan perlu dilakukan secara konsisten. Selain pemeriksaan terhadap produk akhir, pengendalian bahan baku, proses produksi, kebersihan fasilitas, penyimpanan, serta rantai distribusi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan.

Dengan pengawasan yang baik dan didukung pengujian yang tepat, potensi penggunaan bahan berbahaya dalam pangan dapat lebih cepat teridentifikasi sehingga risiko terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.

Berita & Gallery Berkaitan

October 14th, 2026 Hero Image

Bioeasy CountEasy™ RCC Plate Raih Sertifikasi AOAC PTM untuk Pengujian Koliform

CountEasy™ Rapid Coliform Count (RCC) Plate berhasil memperoleh sertifikasi Performance... 

October 12th, 2026 Hero Image

Kendalikan Kontaminasi Allergen di Area Produksi dengan Agitest™ Rapid Test Kit

Agitest™ Rapid Test Kits membantu mendeteksi berbagai jenis alergen pada bahan baku,... 

September 25th, 2026 Hero Image

Boraks di Menu MBG, 4 Guru Gatal Mulut Setelah Mencicipi

Kasus kandungan boraks dalam makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi... 



Kontak Kami

  • Kontak 1

    Admin 2

  • Kontak 2

    Admin 1